Description
Judul:
EPISTEMOLOGI INTEGRATIF: Menghapus Dikotomi Ilmu dalam Kurikulum Modern
.
Penulis:
Darmansyah, S.Pd.I., M.Pd.I.
.
Editor:
Abdul Hakim El Hamidy
.
ISBN:
…dalam proses…
.
Jumlah Halaman:
vi + 134 halaman
.
Cover:
Soft Cover
.
Ukuran:
14,8 x 21 cm
.
Berat:
100 gr
.
Sinopsis:
Kelahiran dualisme pendidikan dalam dunia Islam bukanlah sesuatu yang muncul secara alami dari ajaran agama, melainkan hasil dari proses sejarah yang panjang. Pada masa kejayaan peradaban Islam, ilmu pengetahuan dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh antara wahyu, akal, dan realitas alam. Para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Al-Farabi tidak pernah memisahkan antara kajian spiritual dengan penelitian ilmiah. Menyelidiki hukum-hukum alam dipahami sebagai bentuk penghambaan dan upaya membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT di alam semesta. Karena itu, pendidikan Islam klasik melahirkan generasi ulama sekaligus ilmuwan yang mampu mengintegrasikan kedalaman iman dengan keluasan intelektual.
Namun, memasuki era kemunduran politik dan runtuhnya pusat-pusat peradaban Islam, terutama pasca-serangan Mongol, mulai muncul keterkaitan epistemologis dalam tradisi keilmuan Muslim. Ilmu-ilmu rasional dan sains perlahan dipinggirkan, sementara otoritas keagamaan lebih berfokus menjaga kemurnian doktrin dari pengaruh pemikiran luar. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh kolonialisme Barat yang memperkenalkan sistem pendidikan sekuler demi kepentingan industri dan administrasi kolonial. Sejak saat itu, lahirlah dua wajah pendidikan yang berjalan terpisah: sekolah modern yang unggul dalam sains dan teknologi tetapi miskin spiritualitas, serta lembaga pendidikan Islam tradisional yang kuat menjaga moralitas namun sering tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan modern.
Dikotomi tersebut melahirkan krisis identitas di tengah umat Islam. Generasi Muslim tumbuh dalam keterbelahan antara religiusitas dan rasionalitas, antara orientasi akhirat dan tuntutan dunia modern. Ilmu agama dipersempit hanya pada urusan ritual, sementara sains dianggap netral bahkan terlepas dari nilai-nilai ketuhanan. Akibatnya, pendidikan kehilangan orientasi tauhid yang seharusnya menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban.
Melalui pendekatan epistemologi integratif, dikotomi ilmu perlu dihapus dengan mengembalikan seluruh cabang pengetahuan kepada paradigma tauhid. Sains modern tidak dipandang sebagai ancaman bagi agama, melainkan sebagai instrumen peradaban yang harus diarahkan oleh etika dan nilai-nilai Islam. Reformasi kurikulum modern karenanya tidak cukup hanya dengan menggabungkan pelajaran agama dan sains secara administratif, tetapi membutuhkan rekonstruksi cara pandang pendidikan secara menyeluruh. Dari sinilah diharapkan lahir generasi Muslim yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual, integritas moral, serta kesadaran bahwa seluruh ilmu pada hakikatnya bermuara kepada pengabdian kepada Allah SWT.
