Description
Judul:
Andai Tanpa Ibu
.
Penulis:
Afrinaldi
Ismiati Irzain
M. Rokib
Mariyati
Reza Ginanjar
Shihfil Huda
Shofa Nurul Huda
Siti Arifatin
Unik Fepriyanti
Yuliar
.
Editor:
Abdul Hakim El Hamidy
.
ISBN:
… dalam proses …
.
Jumlah Halaman:
vi + 104 halaman
.
Cover:
Soft Cover
.
Ukuran:
14 cm x 21 cm
.
Berat:
100 gr
.
Sinopsis:
Ada satu nama yang hampir selalu hadir dalam setiap kisah kehidupan manusia: ibu. Dari tangannya kita pertama kali digendong, dari lisannya kita mendengar doa yang paling tulus, dan dari hatinya kita belajar tentang cinta yang tidak pernah meminta balasan. Ibu adalah Madrasah al-Ula, sekolah pertama tempat seorang anak mengenal kehidupan.
Buku Andai Tanpa Ibu lahir dari kesadaran sederhana, namun sering kali baru terasa ketika waktu telah berjalan jauh, bahwa kehadiran seorang ibu adalah nikmat yang kerap kita rasakan tanpa benar-benar kita sadari. Kita tumbuh dengan kasihnya, berjalan dengan doanya, tetapi baru benar-benar memahami maknanya ketika bayang-bayang kehilangan mulai terasa.
Melalui tulisan-tulisan dalam buku ini, penulis mengajak pembaca menempuh perjalanan batin yang perlahan namun dalam. Tentang Ibu dan Cintanya, penulis mengajak kembali ke ruang-ruang hangat dalam kehidupan: dapur dengan masakan yang menyimpan kenangan, panggilan “Mama” yang selalu tinggal di hati, serta pengakuan tulus tentang perempuan hebat yang bernama ibu. Di sana, ibu hadir sebagai pelita pertama yang cahayanya menerangi masa kecil hingga langkah-langkah awal menuju kedewasaan.
Dalam Doa, Maaf, dan Nilai Kehidupan penulis mengajak pada ruang perenungan yang lebih dalam. Di sana ada maaf yang kadang terlambat diucapkan, ada kesadaran bahwa ridha seorang ibu menjadi kemuliaan hidup seorang anak, dan ada kisah-kisah sederhana yang ternyata menyimpan makna yang begitu besar. Pada bagian ini, ibu tidak hanya dicintai, tetapi juga dimuliakan sebagai sumber doa, restu, dan arah kehidupan.
Lalu hadir bagian inti, Andai Tanpa Ibu, yang menjadi jeda paling sunyi dalam perjalanan buku ini. Ketika rumah mulai terasa berbeda, ketika ruang yang dulu penuh kehangatan perlahan menjadi hening, kita mulai menyadari betapa besar arti kehadiran seorang ibu. Melalui perenungan ini, pembaca diajak membayangkan kemungkinan yang paling sepi: bagaimana hidup berjalan ketika sosok itu tak lagi berada di samping kita.
Buku ini bukan sekadar rangkaian tulisan. Ia adalah pengingat yang lembut bahwa sering kali cinta terbesar hadir dalam bentuk yang paling sederhana. Dalam masakan yang disiapkan tanpa lelah, dalam nasihat yang kadang terasa biasa, dan dalam doa yang dipanjatkan diam-diam untuk kebaikan anaknya.
